Kamis, 07 Agustus 2008

Poly-Tikus Harus Dibasmi

Dikutip dari Harian Jurnal Nasional, Jakarta Senin, 21 Jul 2008 by Budi Winarno


Negeri ini membutuhkn politisi yang penuh pengabdian kepada Tanah Air. Pengabdian itu bermaka mengutamakaan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Sebaliknya, bangsa ini tidak membutuhkan politisi yang kerjanya hanya menggerogoti uang negara. Politisi yang menggerogoti kewenangan yang dimiliki, menggerogoti hak rakyat demi perut kekuasaannya."Kita tidak butuh politisi berjiwa tikus yang suka menggerogti segala macam barang, atau mereka yang sebenarnya tikus namun berkedok politisi. Negeri ini butuh politisi sejati, bukan poyi-tikus, yang artinya banyak tikus atau sekumpulan tikus".Hal ini dikatakan Staf Khusus Presiden Ssusilo Bambang Yudhoyono Bidang Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah, Heru Lelono, pada peluncuran buku karyanya berjudul Polytikus Harus Dibasmi, Satu Dasawarsa Refleksi Perjalanan Bangsa, di Jakarta, Sabtu (19/7)Menurut Heru, politisi berjiwa tikus yang tersebar mulai dari pemerintah pusat, DPR, hingga pemerintah daerah dan DPRD harus dibasmi. Jika tidak, maka politisi tersebut akan menggerogoti keuangan negara hingga bangkrut. Menurut Heru, virus korupsi dapat berupa korupsi uang, hingga virus yang paling berbahaya yakni korupsi kekuasaan. Virus korupsi kekuasaan dikatakan sangat berbahaya karena dapat menyebar dan menjangkiti para pemegang kekuasaan. Ciri penyakit korupsi kekuasaan ini, kata Heru, berupa penyalahgunaan wewenang. "Sangat menular karena mustahil sebuah penyalahgunaan wewenang dapat berhasil bila dilakukan seorang diri saja," katanya.Penyalahgunaan wewenang itu misalnya tampak dalam bentuk pembuatan undang-undang (UU) seperti terjadi akhir-akhir ini. Contoh yang paling nyata untuk hal ini adalah tertangkapnya sejumlah anggota DPR saat menerima suap atas pembuatan Rancangan Undang-Undang (RUU) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Menurut Heru, korupsi telah menjadi penyakit akut dan menular di tanah air selama bertahun-tahun merdeka. Karena itu, kebijakan pemberantasan korupsi yang menjadi prioritas pemerintahan SBY, dinilainya sangat mendasar dan tepat. Korupsi yang marak akhir-akhir ini, kata Heru, selain karena ketamakan para pelaku, juga mengindikasikan hilangnya etika berpolitik para politisi.
Pengusaha sekaligus teman dekat Heru, Peter F. Gontha mengatakan, kekuasaan adalah awal dari segala bentuk korupsi. Peter mengapresiasi pencapaian selama masa reformasi, khususnya masa pemerintahan SBY. "Sepuluh tahun pencapaian selama masa reformasi sudah luar biasa. Tapi kita harus sabar," katanya.
Kesabaran itu sangat dibutuhkan agar kita tidak mencari jalan pintas dan melabrak tatanan yang sudah dibangun dengan susah payah. Salah satu bentuk ketidaksabaran itu misalnya, muncul dalam sikap beberapa kalangan yang meragukan keandalan demokrasi."Kini, terjadi tarik ulur terhadap demokrasi. Ada yang ingin menegakannya tapi ada yang ragu dan hendak meninggalkannya," katanya.Buku setebal 215 halaman itu adalah kumpulan pemikiran reflektif penulis selama 10 tahun terakhir yang telah diterbitkan beberapa media. Buku ini, kata Heru, bukan sebuah garis politik, tapi ungkapan hasil sementara proses belajar dalam usaha memahami kehidupan bernegara.Presiden SBY pada halaman akhir buku itu mengatakan, Heru Lelono adalah figur yang patut diteladani karena ia berbicara apa adanya. "Terbuka, mendasar dan dari hatinya. Untuk membangun demokrasi berakhlak di negeri ini, kita perlukan tokoh dan pelaku politik seperti ini," kata SBY.

Very Herdiman

[Kembali]

Tidak ada komentar: